Most journeys through Bulukumba lead travellers towards Bira's beaches. But inland, in Tana Toa, there is another story worth slowing down for. The Ammatoa Kajang community has protected a way of life shaped by spoken teachings, modest living, weaving and a deep responsibility towards the forest.

Banyak perjalanan di Bulukumba membawa wisatawan menuju pantai-pantai Bira. Namun, di pedalaman Tana Toa, ada kisah lain yang patut kita dengarkan pelan-pelan. Masyarakat Adat Ammatoa Kajang menjaga cara hidup yang dibentuk oleh pesan-pesan leluhur, kesederhanaan, tenun, dan tanggung jawab terhadap hutan.

At first glance, visitors may notice the black clothing. Stay a little longer, listen, and the colour begins to speak of something larger.

Sekilas, pakaian hitam mungkin menjadi hal pertama yang menarik perhatian. Namun, setelah kita berhenti sejenak dan mendengarkan, warna itu mulai bercerita lebih banyak.

A message carried from one generation to the next
Pesan yang hidup dari generasi ke generasi

The customary heart of the community lies in Tana Toa, in the Kajang district of Bulukumba, South Sulawesi. Here, Ammatoa is the title of the customary leader, while Pasang ri Kajang refers to ancestral teachings that guide conduct and relationships with other people, the natural world and the Creator.

Pusat kehidupan adat ini berada di Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Ammatoa adalah sebutan bagi pemimpin adat, sedangkan Pasang ri Kajang merupakan ajaran leluhur yang menuntun hubungan antarmanusia, hubungan dengan alam, serta hubungan dengan Sang Pencipta.

Pasang is a living oral tradition. Research from Hasanuddin University describes how its teachings are passed on through stories, advice, prayers and ceremonies, beginning in families and continuing through customary institutions. It is more than a set of rules to read on a sign: its meaning is carried through everyday practice.

Pasang adalah tradisi lisan yang masih hidup. Penelitian Universitas Hasanuddin menjelaskan bahwa ajarannya diwariskan melalui cerita, nasihat, doa, dan upacara. Pengetahuan ini mulai ditanamkan dalam keluarga dan terus dijaga oleh lembaga adat. Maknanya hadir dalam cara orang menjalani kehidupan sehari-hari.

A Kajang elder in traditional black dress beneath the customary welcome sign at the entrance to Tana Toa
The entrance to Tana Toa, the Ammatoa customary area — photo credit: Ben Hunt

Why black matters
Makna di balik warna hitam

The black clothing associated with the Kajang community is often the first thing outsiders photograph. But it deserves to be understood before it becomes an image. Black is linked to kamase-masea, the principle of living simply, and to equality among people. In Tana Toa, dress expresses an approach to life rather than a costume for visitors to admire.

Pakaian hitam masyarakat Kajang kerap menjadi hal pertama yang difoto pengunjung. Padahal, maknanya jauh lebih dalam daripada penampilannya. Warna hitam berkaitan dengan kamase-masea, prinsip hidup sederhana, serta kesetaraan antarmanusia. Di Tana Toa, pakaian adat menyampaikan nilai hidup, bukan sekadar busana untuk dilihat wisatawan.

That meaning is also woven by hand. Kajang women produce Tope Le'leng, a traditional black sarong, using a handloom. Local tourism authorities describe the cloth as an expression of simplicity, equality and the strength of customary identity. Watching a weaver at work, with her permission, can open a conversation about skill, time and what a piece of cloth carries beyond its threads.

Makna itu juga hadir dalam kain yang ditenun dengan tangan. Perempuan Kajang membuat Tope Le'leng, sarung hitam tradisional, menggunakan alat tenun. Menurut dinas pariwisata setempat, kain ini mencerminkan kesederhanaan, kesetaraan, dan kuatnya identitas adat. Dengan izin penenun, menyaksikan proses pembuatannya dapat membuka percakapan tentang keterampilan, waktu, dan cerita di balik setiap helai kain.

A Kajang man in black traditional dress walking a stone path into the forest
Black dress in Tana Toa is an expression of kamase-masea, living simply — photo credit: Ben Hunt

A forest that is cared for, not consumed
Hutan yang dijaga, bukan sekadar dimanfaatkan

The customary forest is central to Kajang life. Pasang guides how the community treats it, and studies link the transmission of these teachings to the protection of the forest. Its value cannot be measured only by what can be taken from it.

Hutan adat memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat Kajang. Pasang menuntun cara masyarakat memperlakukannya, dan penelitian mengaitkan pewarisan ajaran ini dengan upaya menjaga hutan. Nilainya tidak hanya terletak pada apa yang dapat diambil dari sana.

One account from Bulukumba's local government offers a striking example: community members resisted a proposed tree-planting programme inside the sacred forest because, under their customary understanding, trees there should grow naturally. It is a reminder that caring for a place begins by listening to the people whose knowledge and responsibilities are rooted in it.

Salah satu kisah yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Bulukumba cukup menarik: masyarakat adat pernah menolak program penanaman pohon di dalam hutan keramat karena, menurut pemahaman adat mereka, pepohonan di sana harus tumbuh secara alami. Kisah ini mengingatkan kita bahwa menjaga suatu tempat dimulai dengan mendengarkan orang-orang yang memiliki pengetahuan dan tanggung jawab terhadapnya.

Visitors approaching a traditional stilt house inside the Ammatoa customary forest area
Entering the customary area — a way of life shaped by the forest around it — photo credit: Ben Hunt

A living community, not a scene from the past
Masyarakat yang hidup pada masa kini

The Kajang people are often described in ways that make them sound frozen in time. They are not. Their identities and beliefs have layers, and practices can differ between people living inside the Ammatoa customary area, often called Kajang Dalam, and those outside it, known as Kajang Luar. Research on the community also describes how ancestral teachings and Islamic practices can meet in daily life.

Masyarakat Kajang kadang digambarkan seolah-olah hidup terpisah dari zaman sekarang. Kenyataannya lebih berlapis. Cara hidup dan pengalaman setiap orang tidak selalu sama, termasuk antara masyarakat Kajang Dalam yang tinggal di kawasan adat Ammatoa dan Kajang Luar yang tinggal di luarnya. Penelitian juga menunjukkan bahwa ajaran leluhur dan praktik Islam dapat bertemu dalam kehidupan sehari-hari.

If you visit, come with humility. Arrange your visit through local people, follow the guidance they give about clothing and access, and ask before taking photographs. Let a host explain what can be shared and what should remain private. The most meaningful part of a visit is not collecting images; it is leaving with a better understanding of the people who welcomed you.

Jika berkunjung, datanglah dengan rendah hati. Atur kunjungan melalui warga setempat, ikuti arahan tentang pakaian dan area yang boleh dimasuki, serta mintalah izin sebelum memotret. Biarkan tuan rumah menjelaskan apa yang dapat dibagikan dan apa yang sebaiknya tetap menjadi milik komunitas. Pengalaman terbaik bukanlah pulang dengan banyak foto, melainkan dengan pemahaman yang lebih baik tentang orang-orang yang menyambut kita.

South Sulawesi holds many stories within one journey. If this side of Bulukumba has sparked your curiosity, explore my Bira trip on TripWithAnas and discover another way to experience the region.

Sulawesi Selatan menyimpan banyak kisah dalam satu perjalanan. Jika sisi lain Bulukumba ini membuat Anda penasaran, jelajahi perjalanan Bira saya di TripWithAnas dan temukan cara lain menikmati kawasan ini.

Sources