Have you ever heard about Sago palm (Metroxylon sagu)? For Indonesians, sago or "sagu" is a common palm tree, but not everyone can describe it correctly — some even say the sugar palm tree is the same as the sago palm. They're from the same family, Arecaceae, but grow in totally different areas and serve totally different functions. Sago is easily found in swamp areas across several islands of Indonesia, and is known as the carbohydrate source for people in eastern Indonesia (Maluku and Papua) in place of rice.
Apakah kamu tahu tentang pohon sagu / rumbia? Pohon ini mudah sekali ditemukan di Indonesia, terutama di daerah yang berawa-rawa. Sekalipun mudah ditemukan, pohon sagu seringkali disamakan dengan pohon aren, meski berasal dari rumpun dan keluarga palmia yang sama, kedua pohon ini sangatlah berbeda dari fungsinya. Di timur Indonesia, khususnya Maluku dan Papua, sagu merupakan pengganti beras/nasi sebagai sumber karbohidrat. Walau saat ini orang lebih sering memilih nasi sebagai sumber karbo, sagu tetaplah menjadi panganan pilihan yang selalu tersaji.
Papeda and Other Uses
There are so many kinds of dishes we can create from sago, but the most well-known is papeda. We have other tuber plants too — cassava, sweet potato, taro — but people will choose papeda because it's easy and fast to prepare, and always on hand. Sago thrives in swampy areas without anyone planting it; each cluster holds six to eight sago trees. The tree trunks store starch, are cylindrical in shape, and are 35 to 50 cm in diameter. Sago can be harvested after about eleven years, ideally before the sago blossoms appear. One sago palm can produce 150 to 300kg of wet starch — enough to feed several families at once for six to ten months.
Ada banyak yang bisa diolah untuk menjadi panganan dengan sagu, tapi yang paling terkenal adalah Papeda. Ada berbagai umbi-umbian seperti singkong, ubi jalar atau keladi, tapi orang-orang di sana tetap menyajikan papeda sebagai pengganti nasi karena cepat dibuat dan selalu tersedia di tiap rumah. Sagu tumbuh dengan subur di daerah rawa tanpa ada yang menanamnya. Di dalam satu rumpun sagu terdiri dari 6-8 pohon sagu. Batang pohon sagu menyimpan pati atau karbohidrat, berbentuk silinder dengan diameter 35-50cm. Sagu dapat dipanen setelah berumur kurang lebih 11 tahun, dan waktu terbaik adalah sebelum bunga sagu muncul. Dari satu pohon sagu menghasilkan 150-300kg pati basah, dan bisa menjadi pasokan makanan bagi beberapa keluarga selama 6-10 bulan.
Nothing Goes to Waste
In addition to extracting starch from the sago stems, the leaves and midribs are useful too. Sago leaves can be made into house roofs, and the midribs can be used for various other needs — house walls, boats, and more.
Selain mengambil pati dari batang sagu, daun dan pelepah sagu pun berguna. Daun sagu bisa dibuat menjadi atap rumah dan pelepah sagu bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan lain, seperti dinding rumah, perahu, dan yang lainnya.
Why It Matters Beyond the Plate
Sago trees are very beneficial for humans — consuming sago is proven to reduce the risk of heart disease, fight free radicals, provide additional energy, and strengthen stamina, thanks to nutrients like protein, fat, fiber, and zinc. So, have you consumed sago?
Pohon sagu sangatlah bermanfaat bagi manusia, dan dengan mengonsumsi sagu terbukti dapat menurunkan resiko penyakit jantung, melawan radikal bebas, memberikan energi tambahan, dan memperkuat stamina karena terkandung nutrisi seperti protein, lemak, serat dan zinc. Nah, sudahkah Anda mengonsumsi sagu?