Satonda Island and its salt lake

What comes to mind when you hear the name of this island? Honestly, a lot of people don't know about it — including me, until I first visited four years ago. Located northwest of Sumbawa, it's an uninhabited island protected by the state. Satonda Island is designated a nature reserve for the natural wealth it holds. And it's not just the island itself — the surrounding SAMOTA area (Teluk Saleh, Moyo, and Tambora) is Indonesia's second biosphere reserve, declared at the 31st session of the Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council in France, Wednesday 19 June 2019. Satonda isn't as well known as Komodo, Lombok, and other Indonesian tourist destinations, but this small island holds so much wealth that it must keep being protected.

Apa yang terlintas di benakmu saat mendengar nama pulau ini? Jujur saja, banyak orang belum mengenalnya — termasuk aku sendiri, sampai pertama kali berkunjung empat tahun lalu. Terletak di barat laut Sumbawa, ini adalah pulau tak berpenghuni yang dilindungi negara. Pulau Satonda ditetapkan sebagai cagar alam karena kekayaan alamnya. Dan bukan hanya pulaunya saja — kawasan SAMOTA di sekitarnya (Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora) adalah cagar biosfer kedua Indonesia, yang dideklarasikan pada sesi ke-31 Man and the Biosphere (MAB) Programme International Coordinating Council di Prancis, Rabu 19 Juni 2019. Satonda memang tidak sepopuler Komodo, Lombok, dan destinasi wisata Indonesia lainnya, tapi pulau kecil ini menyimpan begitu banyak kekayaan yang harus terus dijaga.

As a nature reserve, Satonda Island has guards, or forest rangers, who are always on duty to protect Satonda from irresponsible people. Satonda Island and its surrounding waters cover an area of 2,600 hectares, formed by the eruption of the Satonda volcano thousands of years ago, and scientists estimate the last eruption of the Satonda volcano was around 10,000 years ago.

Sebagai cagar alam, Pulau Satonda memiliki penjaga, atau petugas kehutanan, yang selalu bertugas menjaga Satonda dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Pulau Satonda beserta perairan di sekitarnya mencakup area seluas 2.600 hektare, terbentuk dari letusan gunung api Satonda ribuan tahun lalu, dan para ilmuwan memperkirakan letusan terakhir gunung Satonda terjadi sekitar 10.000 tahun yang lalu.

A Sacred Lake

With all its beauty, Satonda Island is a sacred island for the people of Sumbawa. At certain times the surrounding community comes and makes wishes that they hang on the Kalibuda trees found on the banks of Lake Satonda. Lake Satonda, also called Lake Motitoi, is a saltwater lake. It's estimated the lake's water is salty because it mixed with seawater that overflowed and became trapped during the eruption of Mount Tambora — this is possible because the distance between Satonda Island and Mount Tambora isn't far.

Dengan segala keindahannya, Pulau Satonda adalah pulau yang disakralkan bagi masyarakat Sumbawa. Pada waktu-waktu tertentu, warga sekitar datang untuk menggantungkan harapan mereka di pohon Kalibuda yang tumbuh di tepi Danau Satonda. Danau Satonda, atau juga disebut Danau Motitoi, adalah danau air asin. Diperkirakan air danau ini menjadi asin karena bercampur dengan air laut yang meluap dan terperangkap saat letusan Gunung Tambora — hal ini dimungkinkan karena jarak antara Pulau Satonda dan Gunung Tambora yang tidak terlalu jauh.

While the local community expresses their amazement through myth, it's a different story for the scientists who came to study this island. Two European scientists, Stephan Kempe and Josef Kazmierczak, first conducted research in 1984 and then returned again in 1989 and 1996. To them, Satonda is a rare phenomenon because its water is salty with an alkalinity level much higher than seawater in general. In their research, they found stromatolites — microbial mounds, reef structures built up by bacteria and algae. Stromatolites were found in abundance during the Precambrian period.

Jika masyarakat setempat mengungkapkan kekagumannya lewat mitos, lain halnya dengan para ilmuwan yang datang meneliti pulau ini. Dua ilmuwan asal Eropa, Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak, pertama kali melakukan penelitian pada tahun 1984 lalu kembali lagi pada 1989 dan 1996. Bagi mereka, Satonda adalah fenomena langka karena airnya asin dengan tingkat alkalinitas yang jauh lebih tinggi dibanding air laut pada umumnya. Dalam penelitiannya, mereka menemukan stromatolit — gundukan mikroba, struktur terumbu yang terbentuk dari bakteri dan alga. Stromatolit ditemukan dalam jumlah melimpah pada zaman Prakambrium.

Now you understand why this island must keep being protected — not only because of the stromatolites, but because the marine park and wildlife found there must also continue to be protected. So, for those of you planning a holiday, or who are currently in Sumbawa, come to Satonda!

Sekarang kamu mengerti mengapa pulau ini harus terus dijaga — bukan hanya karena stromatolitnya, tapi karena taman laut dan satwa liar yang ada di sana juga harus terus dilestarikan. Jadi, untuk kamu yang sedang merencanakan liburan, atau sedang berada di Sumbawa, datanglah ke Satonda!